MAKASSAR, INSPIRASIKITA – Peringatan Hari Hemofilia Sedunia 2026 di RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar menjadi momentum penting untuk meningkatkan kesadaran publik terhadap penyakit hemofilia, khususnya terkait pentingnya diagnosis dini.
Direktur Utama RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo, dr. Annas Ahmad, Sp.B, FICS, menegaskan bahwa peringatan ini bukan sekadar seremoni, melainkan panggilan kemanusiaan untuk memastikan setiap penyandang hemofilia mendapatkan hak yang sama dalam pelayanan kesehatan.
“Ini adalah momentum untuk menguatkan kesadaran, memperluas kepedulian, dan memastikan bahwa setiap penyandang hemofilia memiliki akses terhadap diagnosis, perawatan, dan harapan hidup yang lebih baik,” ujar dr. Annas dalam sambutannya, Rabu (29/4/2026).
Mengusung tema global “Diagnosis: First Step to Care”, ia menilai bahwa diagnosis merupakan pintu awal dalam penanganan hemofilia.
Berdasarkan data World Federation of Hemophilia, lebih dari tiga perempat penyandang hemofilia di dunia diperkirakan belum terdiagnosis.
“Kondisi ini berarti masih banyak anak dan keluarga yang hidup dengan risiko perdarahan tanpa mengetahui penyebabnya, tanpa akses terapi, dan tanpa perlindungan medis yang memadai,” jelasnya.
Ia juga menyoroti bahwa hemofilia seringkali tidak terlihat secara kasat mata, namun memiliki dampak serius seperti perdarahan berulang, nyeri sendi, hingga risiko kecacatan jika tidak ditangani dengan baik.
Di Indonesia sendiri, tantangan diagnosis masih cukup besar.
Data menunjukkan hingga 2018 baru tercatat sekitar 2.098 pasien hemofilia, yang diperkirakan hanya sekitar 10 persen dari jumlah kasus sebenarnya.
“Artinya, masih banyak pasien yang belum terdeteksi dan belum mendapatkan penanganan optimal,” ungkapnya.
Sebagai rumah sakit rujukan nasional di kawasan Indonesia Timur, RSUP Wahidin memiliki peran strategis dalam memperkuat layanan hemofilia.
Tidak hanya dalam pengobatan, tetapi juga dalam deteksi dini, penguatan laboratorium diagnostik, serta memastikan kesinambungan terapi pasien.
Dalam kesempatan tersebut, dr. Annas juga menyampaikan sejumlah komitmen rumah sakit dalam meningkatkan pelayanan hemofilia, di antaranya memperkuat diagnosis dini dan akurat, meningkatkan layanan multidisiplin, serta memperluas edukasi kepada keluarga dan komunitas.
Selain itu, ia menekankan pentingnya sistem rujukan yang cepat dan akses terapi yang tidak terhambat birokrasi.
“Setiap keterlambatan penanganan dapat berdampak serius, mulai dari nyeri hingga kecacatan permanen. Karena itu, respons cepat sangat dibutuhkan,” tegasnya.
Peringatan Hari Hemofilia Sedunia ini turut dihadiri perwakilan Kementerian Kesehatan, Dinas Kesehatan Provinsi Sulsel dan Kota Makassar, BPJS Kesehatan, organisasi profesi, tenaga medis, komunitas hemofilia, serta para penyintas dan keluarga.
Kegiatan ini diharapkan menjadi penguat kolaborasi lintas sektor dalam meningkatkan kualitas hidup penyandang hemofilia di Indonesia. (*)
Leave a Reply